Cataratas do Iguasu - Air Terjun di Brazil yang penuh Kejutan


Rainbow in the Mist, Iguassu Falls

Rainbow in the Mist, Iguassu Falls


Saya sudah melihat air terjun Niagara dan meskipun ukurannya menakjubkan, air terjun Niagara tidak mengundang kekaguman di dalam pikiran saya.


Begitu juga ketika saya melihat gambar air terjun Iguasu di beberapa majalah, gambar-gambar tersebut memperlihatkan puluhan air terjun yang airnya berwarna cokelat. Warna air seperti itu malah semakin mengurangi minat saya.


Tapi saya ingin membuktikan apakah perkiraan saya memang benar atau tidak, karena banyak sekali teman yang mengatakan bahwa pemandangan Iguasu jauh lebih indah daripada Niagara Falls di Kanada dan Amerika Serikat ataupun air terjun Victoria di Zimbabwe dan Zambia.


Dalam kunjungan yang sangat singkat ini, saya memang tidak berencana untuk berkunjung ke sisi Argentina karena pengurusan visa yang memakan waktu hampir tiga minggu. Saya berpikir bahwa kunjungan dari sisi Brazil seharusnya cukup untuk membuktikan apakah pemikiran saya benar atau tidak.


Terbang dengan menggunakan pesawat terakhir dari Rio de Janeiro, saya mendarat di airport Foz de Iguasu pada pukul 01.40 dini hari dan berencana untuk terbang ke Sao Paolo di sore harinya. Dengan total waktu hanya sekitar beberapa jam, saya mengatur waktu dengan pemandu saya, Marcella, dan kami sepakat untuk memulai kunjungan pada pukul 10 di pagi hari supaya saya masih bisa tidur beberapa jam. Ia mengatakan saya sangat beruntung karena cuaca buruk selama dua hari telah lewat dan perkiraan cuaca pada siang hari itu akan sangat baik.
Air terjun Iguassu di kedua negara Brazil dan Argentina berada dalam areal hutan lindung yang sangat luas dan ketika memasuki hutan lindung ini, terasa sekali jika daerah ini benar-benar dilindungi dengan serius. Pemandu taman nasional yang memiliki pengetahuan cukup luas mengenai flora dan fauna di hutan ini memberikan beberapa aturan yang harus kita ikuti; jangan menyentuh pepohonan karena resiko alergi, jangan menimbulkan kegaduhan karena akan menakuti binatang yang sedang berada di dekat kami.


Setelah masuk kedalam hutan belukar dengan menggunakan kendaraan khusus sejauh dua kilometer, Ranger (pemandu alam bebas) mengajak kami untuk berjalan kaki untuk menuju sungai Iguasu. Dengan berjalan kaki, kita dapat melihat lebih banyak fauna liar yang berada di hutan ini. Ada beberapa pelajaran menarik yang diberikan oleh sang Ranger: jika Anda tersesat hutan, jangan pernah meminum air yang berwarna abu-abu karena air tersebut mengandung zat mineral yang sangat tinggi seperti Selenium yang beracun.


Setelah kami melewati tebing terakhir, kami tiba di tepi sungai Iguasu yang terlihat mengalir cukup liar karena arus cukup deras dan airnya yang berwarna lebih cokelat dari gambar-gambar yang pernah saya lihat. Marcella mengingatkan bahwa hujan yang sangat deras telah mengguyur propinsi Parana selama dua hari sebelumnya dan menyebabkan permukaan air di sungai Parana naik dari biasanya. Dari titik inilah kami akan menggunakan speed boat untuk mencapai air terjun Iguasu. Untuk alasan keamanan, kita diharuskan untuk menggunakan life-vest (pelampung keselamatan). Kombinasi menggunakan life-vest dan derasnya arus sungai membuat saya tidak merasa nyaman dengan ide naik speed boat pada saat itu.


Pengemudi speed boat kami yang bernama Antonio terlihat sangat tenang meskipun saya tahu jika dia sedang berusaha keras melawan arus deras dengan manuver zig-zag. Sungai Iguasu juga terasa cukup berliku-liku saat mendekati air terjun. Setelah beberapa saat yang terasa cukup panjang, saya mendapatkan pandangan pertama air terjun Iguasu dari jarak sekitar dua kilometer. Pandangan tersebut membuktikan sesuatu, hanya dalam kurang dari satu detik saja.


Saya salah!


Legenda dari suku Tupi yang hidup di Brazil menceritakan seorang dewa kepercayaan mereka yang ingin menikahi seorang gadis cantik yang bernama Naipí. Karena rasa takut kepada dewa ini dan cintanya kepada seorang biasa bernama Taroba, Naipí dan kekasihnya berusaha melarikan diri dari sang dewa dengan menggunakan sebuah perahu kecil diatas sungai Iguasu. Dengan amarah yang sangat besar, dewa tersebut mematahkan sungai Iguasu sehingga membentuk sebuah air terjun besar dan menyebabkan pasangan tersebut jatuh kedalam air terjun ini selama-lamanya.


Naipí rupanya cantik sekali sehingga amarah yang dibakar rasa cemburu sang dewa menyebabkan patahan di sungai Iguasu sepanjang 2.700 meter, yang terdiri atas 275 air terjun dan secara keseluruhan memiliki ketinggian setara dengan 82 meter. Debet rata-rata air terjun Iguasu adalah 1.746.000 liter per detik dan pada saat maksimal, mencapai 12.800.000 liter per detik. Ini sama dengan 46.080.000.000 liter per jam. Jika dibandingkan, Niagara Falls memiliki debet rata-rata sebesar 2.400.000 liter per detik dan lebih tinggi 50% daripada Iguassu. Namun rekor tertinggi debet air di Niagara hanya 8.300.000 liter per detik.


Meskipun lebih cokelat dari gambar, air di sungai Iguasu ternyata sangat bersih. Warna tersebut disebabkan tingginya zat mineral besi yang terkandum dalam tanah di sekitar sungai Parana dan sungai Iguasu. Warna cokelat tersebut sangat kontras dengan kehijauan flora di hutan lindung ini. Setelah melewati beberapa rintangan arus, Antonio berasil mencapai air terjun Iguasu dari jarak yang cukup dekat dan aman. Dari 275 air terjun kecil yang juga disebut catarata, tirai air terbesar dinamai “the Devil’s Throat.” Dari sisi Brazil, pengunjung dapat berdiri diatas sebuah jembatan dan merasakan dirinya dikelilingi 260 derajat oleh air terjun ini.


Mungkin karena debet air yang luar biasa pada hari ini, Antonio hanya mendekati air terjun kedua terbesar yang dinamai “Three Musketeers” karena terdiri dari tiga cataratas yang hampir serupa. Secara tiba-tiba, Antonio melaju ke bawah air terjun dan kami berada tepat dibawah hujan air yang sangat dahsyat. Kami semua tertawa lepas seperti anak-anak yang baru berusia 5 tahun. Mungkin juga karena terbawa suasana, Antonio membawa perahu kami keluar dari bawah air terjun sejenak dan kembali lagi untuk kedua kalinya.


Setelah kembali ke darat dan makan siang di sebuah restoran yang terletak diatas Devil’s Throat, Marcella menceritakan sebuah cerita sejarah yang unik. Pada tahun 1936, presiden Amerika Serikat pada saat itu, Franklin Roosevelt, beserta istrinya berkunjung ke Brazil dan Argentina di bulan November. Mereka tentu juga menyempatkan diri untuk melihat air terjun Iguasu. Ibu Negara yang bernama Eleanor Roosevelt begitu terkesan dengan pemandangan air terjun Iguasu sehingga ia hanya dapat berkata “Poor Niagara.”


Mungkin tidak jauh dari tempat saya pertama kali melihat air terjun ini 75 tahun kemudian, pikiran yang sama terlintas dalam benak saya: Kasihan Niagara!